Fokus pertama dalam program pemeliharaan ini adalah memastikan area perpustakaan tetap bebas debu. Debu bukan sekadar masalah estetika yang membuat ruangan terlihat kusam, tetapi merupakan ancaman bagi kesehatan pernapasan pengunjung dan integritas fisik buku. Partikel debu yang menempel pada kertas dapat mengikat kelembapan udara, yang kemudian memicu pertumbuhan jamur yang merusak serat kertas. Di sekolah ini, proses pembersihan dilakukan menggunakan penyedot debu berfilter HEPA secara rutin setiap pagi sebelum operasional dimulai. Selain itu, rak-rak buku dibersihkan dengan kain mikrofiber kering untuk memastikan tidak ada residu kotoran yang tertinggal di sela-sela buku.
Selain ancaman partikel kecil, ada ancaman biologis yang jauh lebih destruktif, yaitu serangan hama perusak kayu dan kertas. Strategi yang dijalankan agar perpustakaan bebas rayap melibatkan pencegahan dari sisi struktural dan pemantauan berkala. Pihak sekolah menggunakan rak berbahan logam berkualitas tinggi atau kayu yang telah diberi perlakuan anti-hama sejak awal pemasangan. Namun, perlindungan fisik saja tidak cukup. Tim sarana dan prasarana melakukan inspeksi rutin pada sudut-sudut ruangan, dinding, dan plafon untuk mendeteksi keberadaan jalur-jalur tanah yang biasanya menjadi tanda awal kehadiran koloni rayap. Dengan deteksi dini, tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum kerusakan masif terjadi pada koleksi buku yang langka.
Inovasi yang dilakukan oleh Yasporbi juga mencakup pengaturan sirkulasi udara dan kelembapan di dalam ruangan. Penggunaan alat dehumidifier atau pengatur kelembapan udara menjadi rahasia penting mengapa koleksi mereka tetap awet. Kelembapan yang terjaga di angka 45-55% terbukti mampu menekan perkembangbiakan mikroorganisme dan serangga. Selain itu, pencahayaan diatur sedemikian rupa agar sinar matahari tidak langsung mengenai punggung buku, guna mencegah pudarnya warna sampul dan kerapuhan kertas akibat paparan sinar ultraviolet berlebih. Ini adalah bentuk perawatan menyeluruh yang mempertimbangkan berbagai aspek sains.
Pihak sekolah juga membagikan cara merawat buku kepada para siswa yang meminjam koleksi perpustakaan. Edukasi ini penting karena buku yang dibawa pulang juga berisiko terpapar kotoran atau rayap jika diletakkan di tempat yang lembap. Siswa diajarkan untuk tidak makan dan minum saat membaca, menggunakan pembatas buku alih-alih melipat ujung halaman, serta melaporkan segera jika menemukan buku yang mulai berlubang atau berbau apek. Keterlibatan aktif pengguna perpustakaan ini menciptakan budaya literasi yang bertanggung jawab dan sangat menghargai warisan intelektual.