Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah tempat berkumpulnya ratusan hingga ribuan remaja setiap hari, menjadikannya salah satu lokasi paling rentan terhadap risiko saat terjadi bencana alam atau darurat non-alam. Oleh karena itu, penerapan Pelatihan Kesiapsiagaan darurat secara wajib dan berkala adalah investasi krusial dalam keselamatan komunitas sekolah. Pelatihan Kesiapsiagaan ini tidak hanya berfokus pada evakuasi fisik, tetapi juga membangun ketenangan mental (composure) dan keterampilan hidup dasar pada siswa, guru, dan staf sekolah. Dengan menjadikan Pelatihan Kesiapsiagaan sebagai kurikulum wajib, sekolah memastikan bahwa setiap warga sekolah memiliki kemampuan untuk bertindak cepat, terstruktur, dan efektif dalam menghadapi situasi kritis.
Integrasi Simulasi dan Kurikulum
Pelatihan Kesiapsiagaan yang efektif harus bersifat praktis dan berulang. Simulasi atau gladi resik evakuasi (drill) harus menjadi agenda rutin, bukan sekadar acara tahunan. Di SMP Dharma Siswa, program Safety & Resilience telah mengintegrasikan modul bencana ke dalam pelajaran Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Fokusnya adalah pada drill gempa bumi dan kebakaran.
Drill evakuasi gempa bumi terakhir dilaksanakan pada Rabu, 22 November 2024, pukul 10:00 WIB. Latihan ini mencakup prosedur Drop, Cover, and Hold On di dalam kelas, dilanjutkan dengan evakuasi terstruktur menuju titik kumpul (assembly point). Koordinator Keamanan Sekolah, Bapak Rudi Irawan, mencatat bahwa waktu evakuasi total untuk seluruh 750 siswa dan staf adalah 3 menit dan 15 detik. Hasil ini dicatat dan dianalisis untuk mengidentifikasi hambatan evakuasi (misalnya, pintu yang sempit atau koridor yang terhalang).
Peran Tim Tanggap Darurat dan Aparat
Setiap sekolah harus memiliki Tim Tanggap Darurat Sekolah (TTDS) internal yang terdiri dari guru dan staf yang telah menerima pelatihan lanjutan (misalnya, pertolongan pertama tingkat lanjut dan manajemen krisis). TTDS ini bertugas mengkoordinasikan evakuasi, memberikan pertolongan pertama, dan melakukan hitungan akhir siswa.
Kolaborasi dengan aparat dan instansi terkait juga vital. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Regional memberikan pelatihan khusus kepada TTDS SMP Dharma Siswa pada Sabtu, 12 Oktober 2024. Pelatihan ini mencakup penggunaan alat pemadam api ringan (APAR) dan manajemen komunikasi darurat. Selain itu, Kepolisian Sektor (Polsek) setempat secara rutin berpartisipasi dalam drill untuk membantu mengamankan area luar sekolah dan mengatur lalu lintas. Petugas Polsek, Bripka Adi Saputro, selalu hadir dalam drill untuk memastikan jalur evakuasi menuju jalan raya tetap steril dan aman.
Disiplin Protokol dan Inventaris Data
Aspek penting lainnya adalah pendataan yang akurat dan cepat. Setelah evakuasi, Wali Kelas diwajibkan melakukan penghitungan kehadiran siswa menggunakan daftar kehadiran fisik yang selalu dibawa di dalam Tas Siaga mereka. Data ini harus diserahkan kepada TTDS di titik kumpul.
Protokol Missing Person (orang hilang) harus jelas: jika ada siswa yang hilang, rincian terakhir terlihat, termasuk waktu dan lokasi, harus dicatat dan segera dilaporkan kepada koordinator TTDS. Semua laporan insiden dan data evaluasi drill disimpan di Unit Kearsipan Sekolah selama minimal 5 tahun untuk tujuan akreditasi dan peningkatan berkelanjutan program kesiapsiagaan. Dengan mengedepankan disiplin dan prosedur yang teruji, SMP dapat secara signifikan mengurangi potensi kerugian jiwa saat bencana melanda.