Menu Tutup

Economy 101: Yasporbi Gandeng Bank Indonesia Edukasi Literasi Keuangan

Pemahaman mengenai tata kelola keuangan sering kali dianggap sebagai materi orang dewasa, namun kenyataannya, pembentukan karakter finansial harus dimulai sejak usia sekolah. Menyadari hal tersebut, sekolah Yasporbi melakukan sebuah langkah strategis dengan menggandeng bank sentral, Bank Indonesia, untuk menyelenggarakan program edukasi bertajuk Economy 101. Inisiatif ini dirancang khusus untuk memberikan pemahaman dasar namun mendalam mengenai sistem ekonomi dan pentingnya literasi keuangan bagi siswa sekolah menengah pertama.

Di tengah gempuran tren gaya hidup konsumtif dan kemudahan transaksi digital, generasi muda sangat rentan terjebak dalam masalah finansial jika tidak dibekali pengetahuan yang cukup. Melalui program ini, para ahli dari Bank Indonesia turun langsung ke sekolah untuk membedah konsep-onsep ekonomi makro secara sederhana, mulai dari fungsi uang, peran bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar, hingga pengenalan sistem pembayaran non-tunai yang aman. Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya menjadi konsumen yang aktif, tetapi juga menjadi individu yang memiliki kendali penuh atas keputusan finansial mereka.

Salah satu materi utama dalam kurikulum Economy 101 ini adalah pengenalan terhadap konsep menabung dan investasi sejak dini. Siswa diajarkan perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, sebuah konsep dasar yang sering kali terlupakan di era media sosial. Pihak Yasporbi sangat menekankan bahwa kecerdasan finansial adalah salah satu kecakapan hidup (life skill) yang sama pentingnya dengan kecakapan akademik lainnya. Dengan bimbingan langsung dari praktisi keuangan, siswa dapat memahami bagaimana bunga majemuk bekerja, risiko penipuan daring, dan cara menyusun anggaran pribadi yang sederhana namun efektif.

Kolaborasi ini juga mencakup penggunaan simulator transaksi digital yang diawasi langsung oleh Bank Indonesia. Siswa diberikan pengalaman nyata dalam mengelola uang virtual, melakukan perencanaan keuangan jangka pendek, hingga memahami cara kerja inflasi dengan metode permainan yang menyenangkan. Pendekatan yang tidak monoton ini membuat materi ekonomi yang biasanya dianggap berat menjadi sangat menarik bagi remaja. Mereka diajak untuk berpikir kritis: mengapa harga barang naik? Bagaimana cara mengalokasikan uang jajan agar bisa digunakan untuk modal usaha kecil-kecilan di sekolah?