Menu Tutup

Ikan & Sayur: Serunya Belajar Aquaponik di SMP Yasporbi

Sistem aquaponik yang dikembangkan di sekolah ini merupakan perpaduan cerdas antara budidaya ikan dan penanaman sayur dalam satu sirkulasi air yang tertutup. Prinsip dasarnya sangat sederhana namun sangat ilmiah: kotoran ikan yang mengandung amonia tinggi diubah oleh bakteri menjadi nitrat, yang kemudian menjadi nutrisi utama bagi tanaman. Sebagai imbalannya, akar tanaman akan menyaring air tersebut sehingga kembali bersih saat dialirkan kembali ke kolam ikan. Di SMP Yasporbi, siswa belajar bagaimana menjaga keseimbangan simbiosis mutualisme ini agar kedua makhluk hidup tersebut dapat tumbuh dengan optimal tanpa memerlukan pupuk kimia tambahan.

Proses instalasi sistem ini menjadi momen yang paling dinantikan oleh para siswa. Mereka belajar merakit pipa-pipa paralon, mengatur pompa air, hingga memilih jenis media tanam seperti hidroton atau kerikil yang tepat. Selain itu, pemilihan jenis satwa air menjadi perhatian khusus. Biasanya, mereka menggunakan ikan nila atau lele karena daya tahannya yang kuat terhadap perubahan kondisi air. Melalui kegiatan ini, siswa mendapatkan pemahaman mendalam bahwa dalam alam semesta, tidak ada yang terbuang percuma jika kita tahu cara mengelolanya. Limbah dari satu makhluk bisa menjadi sumber kehidupan bagi makhluk lainnya.

Selama masa pemeliharaan, para siswa memiliki tanggung jawab rutin yang melatih kedisiplinan. Mereka harus mengecek kadar pH air, suhu, dan memberikan pakan secara teratur. Pengamatan terhadap pertumbuhan tanaman sayur seperti selada, kangkung, dan pakcoy menjadi bagian dari praktikum sains yang menyenangkan. Mereka mencatat bagaimana tanaman yang tumbuh di atas air memiliki kecepatan pertumbuhan yang berbeda dibandingkan dengan media tanah. Pengalaman belajar aquaponik ini memberikan gambaran nyata tentang efisiensi lahan, di mana dalam satu area yang sama, sekolah bisa menghasilkan protein hewani dan vitamin nabati sekaligus.

Aspek lain yang ditekankan di SMP Yasporbi adalah pentingnya keberlanjutan. Dengan sistem ini, penggunaan air jauh lebih hemat hingga 90% dibandingkan pertanian konvensional karena air terus diputar kembali. Ini adalah pelajaran penting bagi siswa mengenai konservasi sumber daya alam di tengah ancaman krisis air global. Selain itu, karena sistem ini bebas dari pestisida dan herbisida, produk yang dihasilkan benar-benar organik dan sangat sehat untuk dikonsumsi. Rasa bangga terlihat jelas di wajah para siswa saat mereka melakukan panen perdana dan melihat hasil kerja keras mereka tersaji dengan segar.