Fenomena ketergantungan pada perangkat digital di kalangan remaja telah menjadi tantangan serius, terutama di saat-saat luang seperti waktu menunggu berbuka puasa. Menyadari hal tersebut, SMP Yasporbi meluncurkan sebuah inisiatif unik yang bertujuan untuk mengembalikan kedekatan siswa dengan dunia buku. Program bertajuk Ngabuburit Literasi ini mengajak seluruh siswa untuk melepaskan diri sejenak dari layar ponsel dan beralih ke lembaran kertas yang penuh ilmu. Kegiatan ini bukan sekadar mengisi waktu, melainkan sebuah gerakan untuk menyehatkan kembali fokus dan daya konsentrasi siswa yang sering terdistraksi oleh media sosial.
Konsep utama dari program ini adalah dedikasi waktu selama satu jam tanpa gawai. Dalam durasi tersebut, siswa diminta untuk menaruh ponsel mereka di tempat khusus dan memilih satu buku bacaan, baik itu buku fiksi, non-fiksi, maupun kitab suci Al-Qur’an. Lingkungan sekolah dikondisikan sedemikian rupa agar tercipta ketenangan yang mendukung aktivitas membaca. Tanpa adanya notifikasi yang terus-menerus muncul, otak siswa diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam fase deep work atau pemikiran mendalam, yang sangat sulit didapatkan dalam keseharian digital yang serba cepat.
Manfaat dari kegiatan ini terasa sangat signifikan bagi perkembangan kognitif siswa. Membaca buku fisik melatih kemampuan imajinasi dan memperkaya kosakata yang tidak ditemukan dalam bahasa singkat di internet. Di Yasporbi, para guru bertindak sebagai fasilitator yang turut serta dalam kegiatan membaca, memberikan contoh nyata bahwa orang dewasa pun memerlukan waktu untuk belajar secara tenang. Dengan membaca secara rutin selama bulan Ramadan, siswa secara perlahan mulai merasakan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hiburan digital, tetapi bisa muncul dari penemuan ide-ide baru di dalam sebuah buku.
Selain itu, program ini juga menjadi ajang untuk melatih kesabaran. Menahan diri untuk tidak memeriksa ponsel selama satu jam adalah bentuk lain dari puasa yang sangat relevan bagi generasi milenial dan gen Z. Ini adalah latihan mental untuk mengendalikan impuls dan keinginan sesaat. Keberhasilan melewati satu jam tanpa gangguan layar memberikan rasa bangga dan kendali atas diri sendiri. Diskusi singkat sering diadakan setelah sesi membaca berakhir, di mana siswa saling berbagi ringkasan atau pesan moral dari apa yang mereka baca, sehingga literasi bukan hanya menjadi kegiatan individu, melainkan pengalaman sosial yang membangun.